Selasa, 01 September 2009

hasil kriya tekstil

PAMERAN 'URBAN BATIK' DI ARSLONGA

Komunitas Tetes, yang beranggotakan mahasiswa Kriya Tekstil ISI Yogyakarta, memamerkan karya-karya mereka di Rumah Seni Arslonga, 4-7 Mei. Yang dipamerkan adalah --dalam istilah mereka-- ‘urban batik’, yang merupakan perpaduan seni batik dan seni urban.

Mereka berpendapat, seni batik adalah seni tradisional, sedangkan seni urban adalah seni modern. Selain itu, mereka menilai, seni batik yang indah dengan kerumitan dan ketelitian dalam proses pembuatannya menyebabkan para pelakunya terjebak akan kebutuhan pasar. Sedangkan seni urban, kata mereka, cenderung bebas dalam mengapresiasikan karyanya, tanpa harus memikirkan nilai komersial.

Dengan pemikiran tersebut, kelompok ini mencoba membuat seni batik yang berbeda. Salah satunya untuk mendekatkan batik kepada anak muda yang masih beranggapan bahwa batik itu sesuatu yang kuno atau tradisional. Sementara, menurut mereka, seni urban yang berkembang di kehdiupan perkotaan yang modern lebih dekat dengan anak muda. Hal ini bisa dilihat dari fenomena street art, grafiti dan mural yang berkembang pesat di perkotaan. Menurut Antonius Yulianto, salah seorang anggota, istilah urban batik adalah pengaplikasian teknik-teknik batik menjadi ekspresi tak terbatas pada pengalaman mereka sebagai masyarakat urban.

Dalam diskusi ‘Urban Batik’, 7/5, Komunitas Tetes melihat bahwa telah terjadi perubahan kultur batik. Jika semula hanya dipakai di kalangan bangsawan, kini meluas ke semua kalangan. Jika semula hanya dipakai pada acara seremonial penting, kini dikenakan secara lebih leluasa. Demikian pula, jika semula hanya dipakai sebagai bahan kemeja, kini tidak sedikit digunakan sebagai bahan celana. Dari segi material pun, menurut mereka, semakin kaya. Jika semula sebatas kain, kini meluas ke kayu, kulit, kertas, dan sebagainya.

Kini para anggota Komunitas Tetes menciptakan batik yang, kata mereka, bercorak “kota”. Terdapat sekitar 50 produk aplikasi batik pada pameran ini.

Melihat sejumlah karya yang dipamerkan, sebagian masih membawa corak batik tradisional, misalnya masih ada stilisasi. Namun sebagian lagi terkesan keluar dari apa yang selama ini kita sebut batik, misalnya berupa kumpulan lingkaran warna-warni chic. Toh semuanya menawarkan motif dan disain yang menarik. Di tengah gaya batik pedalaman, pesisiran dan kontemporer, karya-karya Komunitas Tetes ini mungkin lebih condong ke kontemporer. Mereka bisa meneruskannya dengan eksplorasi terhadap ikon-ikon anak muda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar